Monday, March 6, 2017

Air Kencing di Kolam Renang Berbahaya


Belum lama ini tim ahli toksikologi dari University of Alberta berhasil menemukan cara untuk memastikan berapa banyak air kencing di dalam kolam renang. Temuan ini penting, mengingat urin bercampur klorin di kolam renang berdampak besar bagi kesehatan.


Pentingnya tidak kencing di kolam renang
Adanya peringatan untuk tidak kencing sembarangan di kolam renang bukan hanya agar tidak mengotori, tapi juga alasan kesehatan. Sayangnya orang sering abai.
Tahukah Anda, mata merah dan gatal yang dialami orang saat berenang bukan karena kandungan klorin. Melainkan campuran klorin berbaur nitrogen dalam urin sehingga menimbulkan bau menyengat di kolam renang, atau dikenal juga dengan sebutan kloramin.
Bahkan, klorin yang bereaksi dengan urin juga bisa membentuk sejumlah senyawa berpotensi beracun lainnya, atau disebut desinfeksi produk sampingan. Selain membentuk kloramin, efek sampingnya banyak.
Di antaranya pembentukan sianogen klorida--yang diklasifikasikan sebagai agen paparan kimia; trikloramin penyebab masalah pernapasan termasuk asma; dan juga nitrosamin, yang disinyalir memicu kanker.
Walau masih kurang bukti untuk menyebut nitrosamin di kolam renang meningkatkan risiko kanker, tapi sebuah studi di Spanyol pernah menemukan bahwa perenang jangka panjang lebih berpotensi mengalami kanker kandung kemih.
Studi sebelumnya
Menyadari dampaknya bagi kesehatan, itulah sebabnya ilmuwan terus mengadakan penelitian untuk mengungkap seberapa banyak kandungan air kencing yang berpotensi berbahaya. Studi tahun 2014 misalnya.
Walau dinyatakan gagal, sebab penelitian hanya dilakukan di lab dengan zat-zat tiruan dalam jumlah terbatas, setidaknya periset mendapat gambaran bahwa sianogen klorida memang ada, dan efeknya jelas membahayakan.
Eksperimen lainnya dilansir Ars Technica juga pernah meneliti hal tersebut. Yakni berapa banyak kencing dalam kolam renang yang mungkin menghasilkan sianogen klorida dengan cepat sehingga menyebabkan koma, kejang, dan kematian. Saat itu, periset mengestimasi sekitar 2.500 bagian per miliar.
Studi baru
Berdasar studi terbaru yang diterbitkan dalam Environmental Science & Technology Letters, periset memperkirakan ada sekitar delapan galon air kencing dalam 110.000 galon air kolam renang, sekitar 20 galon air kencing dalam 220.000 galon kolam renang, dan sekitar dua galon kencing di kolam renang rumahan. Sebagai referensi, rata-rata orang buang air kecil hingga setengah galon per hari.
Jumlah tersebut didapat dengan menelusuri tingkat pemanis buatan dalam air, yang umum terdapat dalam urin. Pemanis yang disebut kalium asesulfam (Ace-K) ini tidak diproses oleh tubuh dan tidak mudah dipecah dalam air, sehingga dapat berfungsi mewakili air kencing.
Untuk studi, periset menguji 250 sampel pada 31 kolam renang dan kolam air panas dari hotel dan fasilitas rekreasi di dua kota Kanada. Mereka menemukan ace-K pada tiap orang, yang artinya, kencing dalam kolam itu ternyata memang lazim. Dengan memantau selama tiga minggu, kesimpulan jumlah persis air kencing dalam kolam renang pun ditemukan.
Solusi dan saran ahli
Menurut para ahli dalam National Public Radio, temuan ini bukanlah untuk menakut-nakuti atau dijadikan alasan untuk menghindari berenang, tapi pengetahuan lebih untuk pencegahan. Bagaimanapun, renang terbukti baik untuk pernapasan.
Lagipula selain air kencing, ada faktor lain juga yang bisa memengaruhi masalah kesehatan orang di kolam renang. Misalnya kolam renang dalam ruangan dengan sinar matahari alami kurang, juga berpotensi memecah beberapa senyawa berbahaya sehingga mengganggu pernapasan.
Untuk itu agar sehat, periset mengimbau agar orang berhenti kencing di dalam kolam. Juga mengganti dan menguras air kolam, bukan cuma menambah air atau memberi obat. Sebagaimana upaya pencegahan penyakit yang disarankan U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebagai berikut:
  • Bilas tubuh sebelum dan sesudah berenang
  • Hindari berenang jika memiliki luka terbuka yang tidak ditutup perban tahan air. Juga saat diare. Sebab kuman penyebab diare (cryptosporidium) bisa hidup di air selama 10 hari walau telah diobati dengan bahan kimia.
  • Hindari berkumur, apalagi menelan air kolam.
  • Bagi yang memiliki kolam renang sendiri, uji air dengan tester kolam. Tingkat klorin harus antara satu sampai tiga ppm, dan pH antara 7,2 sampai 7,8.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Google+ Badge

Visitor

Flag Counter